Example 750x300

DPRK Otsus Pegunungan Bintang Tinjau Fasilitas Pendidikan dan Kesehatan di Distrik Okaom

12
×

DPRK Otsus Pegunungan Bintang Tinjau Fasilitas Pendidikan dan Kesehatan di Distrik Okaom

Share this article

PEGUBIN (SN.COM)Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pegunungan Bintang dari jalur Otonomi Khusus (Otsus) menggelar kunjungan kerja (kunker) ke Distrik Okaom, Kabupaten Pegunungan Bintang. Kunjungan ini dilakukan untuk meninjau langsung kondisi pelayanan serta sarana prasarana pendidikan dan kesehatan di wilayah tersebut.

Rombongan kunker dipimpin langsung oleh Yunus Setamanki, serta didampingi oleh Calon Ketua III DPRK Pegunungan Bintang Koswin Uropmabin, Melius Uropdana, dan Nakati Trukna. Peninjauan menyasar tiga fasilitas utama publik, yakni SD Inpres Bulangkop, SMP Negeri Bulangkop, dan Puskesmas Bulangkop.

Usai meninjau lokasi, Yunus Setamanki menyampaikan bahwa secara umum fasilitas kesehatan dan bangunan SMP masih terawat dengan baik. Namun, kondisi gedung SD Inpres Bulangkop membutuhkan perhatian mendesak dari dinas teknis terkait.

“Kami sudah meninjau langsung sejumlah fasilitas pelayanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan. Kondisi bangunan Puskesmas dan SMP masih terawat bagus, tetapi SD Inpres Bulangkop yang dibangun sejak tahun 1980-an sudah harus direhabilitasi karena bangunannya mengalami kerusakan yang cukup parah,” ujar Yunus.

SD Inpres Bulangkop Rusak Parah, KBM Tetap Berjalan

Mewakili pihak sekolah, guru senior SD Inpres Bulangkop, Patris Kalakmabin, menyampaikan apresiasinya atas kunjungan wakil rakyat jalur Otsus tersebut. Menurutnya, ini merupakan kali pertama anggota DPRK datang langsung melihat kondisi sekolah mereka.

Patris menjelaskan, gedung sekolah bersejarah yang berdiri sejak tahun 1980-an itu kini dalam kondisi prihatin dan membutuhkan bangunan baru yang lebih layak. Meski demikian, aktivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap diupayakan berjalan seperti biasa.

“Sekolah ini bernilai sejarah tinggi karena dibangun tahun 1980-an, tetapi kondisi bangunannya sekarang sudah rusak parah. Kami sangat berharap ada perhatian untuk pembangunan gedung yang layak,” ungkap Patris.

Saat ini, SD Inpres Bulangkop memiliki 173 siswa dengan didukung 9 orang guru, yang terdiri dari 2 guru bersertifikasi/PNS dan 7 guru pembantu (honorer).

SMP Negeri Bulangkop Membutuhkan Panel Surya

Sementara itu, Kepala Sekolah SMP Negeri Bulangkop, Yulianus Taplo, turut menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran jajaran DPRK Otsus.

“Kami dari pihak sekolah mengucapkan terima kasih kepada bapak-bapak dewan yang sudah hadir. Dari tahun ke tahun kami merindukan kunjungan seperti ini, dan baru pertama kali DPRK datang langsung ke sekolah kami,” tutur Yulianus.

Yulianus menjelaskan bahwa fisik gedung SMP Negeri Bulangkop dalam kondisi cukup aman dan hanya memerlukan pemeliharaan rutin. Namun, kendala utama yang dihadapi sekolah adalah keterbatasan daya listrik. Pihaknya sangat membutuhkan pengadaan panel surya (solar panel) untuk mendukung operasional sekolah serta proses pembelajaran siswa berbasis teknologi.

“Untuk bangunan masih aman, tetapi saat ini kami sangat membutuhkan Solar Panel tenaga surya untuk kebutuhan belajar siswa dan mempermudah pekerjaan administrasi di sekolah,” jelasnya.

SMP Negeri Bulangkop saat ini menampung 94 siswa yang diampu oleh 12 orang guru, terdiri dari 6 guru PNS/NIP dan 6 guru honorer.

Puskesmas Bulangkop Terawat, Butuh Tambahan Nakes OAP

Selain sektor pendidikan, DPRK Otsus juga meninjau Puskesmas Bulangkop di Distrik Okaom. Tim DPRK menilai kondisi fisik gedung puskesmas sangat baik dan terawat, mulai dari ruang rawat inap hingga laboratorium.

Pelayanan kesehatan bagi masyarakat setempat berjalan rutin setiap hari, meskipun sebagian dokter dan perawat bertempat tinggal di ibu kota kabupaten.

Salah satu tenaga kesehatan (nakes) di Puskesmas Okaom, Paul, menjelaskan bahwa secara umum sarana dan pelayanan kesehatan sudah berjalan baik. Namun, pihak puskesmas sangat membutuhkan tambahan tenaga perawat dari Orang Asli Papua (OAP), khususnya putra-putri daerah Pegunungan Bintang.

“Pelayanan dan tenaga perawat sebenarnya sudah ada, tetapi kami sangat membutuhkan perawat Orang Asli Papua. Hal ini penting agar mereka bisa berkomunikasi menggunakan bahasa daerah setempat saat memberikan edukasi dan penanganan medis kepada pasien yang datang berobat,” pungkas Paul.

Redaksi / Editor: (rb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *