
OKSEBANG (SN.COM)— Demi terwujudnya Visi Bupati dan Wkil Bupati tentang Pegunungan Bintang Cerdas Kepala Sekolah Dasar (SD) Inpres Kubipkop Distrik Oksebang Kabupaten Pegunungan Bintang Provinsi Papua Pegunungan, Anton Taplo,S.Pd mengapdikan diri dengan mengajar tiga ruang kelas belajar (RKB) seorang diri tanpa guru pendamping.
Sorang guru Pahlawan tanpa tanda jasa yang berasal distrik Sopsebang Kabupaten Pegunungan Bintang itu, telah berhasil mengungkapkan isi hatinya setelah ditemui jurnalis sifikews.com yang berkujung ke sekolahnya,pada Kamis,06/09/2025

Saat ditemui Anton Taplo langsung menghela nafas,mata berkaca terasa tangis sedihpun mulai terlihat dipipinya sebelum ia menceriterakan perjuangannya sebagai seorang guru sekolah dasar yang rela mengajar tiga RKB seorang diri selama empat tahun sebagai kepala sekolah.
“ saya terharu dan sedih karena saya tidak tahu masih ada teman-teman guru karena ada 4 orang guru tetapi tiga orang mereka memilih pinda ke distrik dan satu orang yang sangat setia tapi ia dipanggil tuhan (meninggal) dan saya sendiri sebagai kepala sekolah yang bertahan mengajar tiga RKB dan sudah 20 tahun tetapi untuk saya jadi kepala sekolah itu berjalan empat tahun”.ucapnya

Anton menjelaskan mengajar di pedalaman jauh dari kota kota maju tentu tidak mudah bukan hanya itu menurut Anton menguasai satu sekolah hanya seorang diri sangat tidak muda tetapi ia mengaku hal itulah yang ia alami selama lima tahun kepemimpinanya sebagai kepala sekolah.
“ mengajar di kampung itu tidak muda karena semua fasilitas tidak ada apalagi dengan kondisi seperti itu kita mampu menbguasai satu sekolah hanya seorang diri saja sangat tidak bisa banyak tantangan, tetapi selama lima tahun itu yang saya alami bersama anak-anak” ujarnya
Lanjt Anton Menambahkan dirinya walaupun seorang diri ia rela berkorban demi mencerdaskan anak bangsa, ia sebut khusunya demi masa depan anak-anak sopsebang meski harus menghadapi berbagai tantangan besar namun dengan nada semangatnya ia mengaku dirinya tetap betahan mempersiapkan masa depan anak-anak asuhannya untuk meraih cita-cita yang diimpikan.

“saya tetap bertahan dengan anak-anak saya disini saya akan matipun anak-anak didik saya akan menguburkan saya disini bukan karena jabatan kepala sekolah jadi saya datang disini, tetapi sebagai orang tua dari anak-anak didik saya akan bertahan menghadapi tantangan bersama anak” katanya
Menurutnya Kepala Sekolah fasilitas pendidikan kurang memadai seperti kurangnya buku pelajaran, alat tulis, dan infrastruktur sekolah yang sangat memprihatinkan menjadi tantangan yang ia hadapi sehari-hari. dan bukan hanya itu menurutnya Kondisi geografis yang sulit dan cuaca ekstrem kerap menjadi hambatan. Meski begitu, Ia mengaku dirinya tidak pernah menyerah. Ia selalu berusaha mencari solusi kreatif untuk mengatasi setiap kendala yang dihadapinya.
“menjadi guru adalah sebuah panggilan hati yang menuntut dedikasi, kesabaran, dan semangat yang tak pernah pudar walaupun banyak tantangan,baik geografis, kurang buku,alat tulis,insfrastruktur sekolah,tetapi hal itu bukan penghalang bagi saya demi anak-anak,saya rela mengorbankan diri untuk masa depan mereka”.

Selain menceritahkan perjuangan ia juga mengatakan peran seorang guru bukan hanya sekadar menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi penggerak utama dalam membangun generasi yang cerdas dan berakhlak.
Dengan itu ia mengaku sebagai guru di pefalaman papua perlu membutuhkan ketulusan dan kerja keras untuk mencerdaskan anak bangsa serta menciptakan perubahan nyata pada setiap siswanya.
“ untuk menjhadi guru di pedalam itu tidak muda harus siap mental,ketulusan,kesabaran,bukan hanya siapkan materi pelajaran tetapi hal-hal seperti itu sangatlah penting untuk bertahan mengabdi sebagai guru yang profesional” tambahnya
Telah diketahui bahwa Siswa Binaannya di Sekolah Dasar (SD) Inpres Kubipkop Distrik Oksebang Kabupaten Pegunungan Bintang Provinsi Papua Pegunungan berjumlah 116 Siswa. (*Demi Hiktaop*)













